SEKELIMUT MAKNA RAPOR PENILAIAN TENGAH SEMESTER DI MASA C 19

(oleh: A. Sujana)

Memotret Makna Rapor PTS

Ada 4 sikap peserta didik dalam memaknai Rapor PTS, yaitu :

  1. Ada peserta didik yang senantiasa menanti Rapor PTS-nya dengan sumringah, karena mereka berharap nilaianya akan sesuai dengan yang diinginkan.
  2. Ada peserta didik yang diliputi ketegangan karena mereka merasa nilainya akan buruk sehingga khawatir akan dimarahi orang tuanya. Mereka merasakan parameter kehadiran dalam PBM daring tidak terpenuhi oftimal.
  3. Ada peserta didik yang memandang bahwa pembagian Rapor PTS hanya ritus semata yang sama sekali tidak berdampak pada diri mereka. Pikirannya menelisik bahwa pelayanan sekolah di bawah standar.
  4. Ada juga peserta didik yang tidak peduli, karena yang diharapkan hanyalah jeda “liburan menguras pikiran” setelah pembagian Rapor PTS.

Apapun sikap peserta didik, hendaknya Bapak/Ibu wali kelas bisa menangkap makna hakiki atau sinyalemen di balik Rapor PTS untuk disampaikan kepada mereka dan orang tua/walinya agar dapat memahami rahasia dibalik LCHBPD/rapor yang diterimanya. Perlu dipahami bahwa Rapor PTS sama sekali tidak mewakili diri peserta didik secara utuh, detail, lengkap, dan sempurna. Semua nilai yang tercantum dalam Rapor PTS hanyalah angka yang mewakili sebagian dari usaha, kerja keras, dan kepribadian peserta didik selama mengikuti PBM daring. Dengan demikian, ada dua kemungkinan yang perlu Bapak/Ibu wali kelas tegaskan kepada mereka, yaitu :

  1. Bagi peserta didik yang nilai Rapor PTS-nya bagus, wali kelas perlu menyampaikan bahwa nilai yang tercantum dalam Rapor PTS harus bisa dibuktikan dalam keseharian. Yakinkan bahwa nilai yang diperoleh adalah murni dan bisa dibuktikan sesuai kompetensi. Selain itu, Bapak/Ibu wali kelas perlu mengingatkan dan mengedukasi mereka bahwa Rapor PTS bukan segalanya. Maksudnya mereka jangan sampai merasa cepat puas hati, apalagi besar kepala dan menganggap remeh orang lain. Sebab ada potret nilai yang lebih penting yaitu karakter yang menunjang, seperti: jujur, ulet, amanah, dan rajin sehingga mereka memang pantas mendapat nilai bagus itu.
  2. Bagi peserta didik yang nilai Rapor PTS-nya tidak atau kurang bagus, wali kelas hendaknya menasehati bahwa mereka tak usah berkecil hati karena nilai yang tercantum dalam Rapor PTS tidak mewakili potensi mereka secara keseluruhan. Mereka yakin memiliki kelebihan atau potensi lain yang bisa dimaksimalkan. Selain itu, karakter positif yang mereka miliki juga dapat dikembangkan untuk mengimbangi kekurangannya. Karena intinya PBM bukan sekedar penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan, akan tetapi lebih memfokuskan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati, dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pemahaman yang benar makna Rapor PTS, maka peserta didik dan orang tua/walinya, diharapkan akan jauh lebih bijaksana dalam menyikapi nilai Rapor PTS yang diterimanya.  

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *